Tampilkan postingan dengan label Tugas Kuliah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tugas Kuliah. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 05 Mei 2012
Code Switching in Sociaty
THE USING OF CODE SWITCHING IN SOCIETY
By
Zainal abidin
Abstract :
The term of code switching is widely used in public life today, even though they use it without realizing it, from that phenomena the objective of this article is to examine more deeply the use of code switching in society, and some factors related of it.
Key Word
Code switching
INTRODUCTION
Language and society can not be separated. Language is used in society to build communication with others. Basically, language is a system of arbitrary verbal symbol by with the member of a speech community interact and express their idea, feeling and thought.
Language is have many variation which make it rich, and one of the language variation is code switching. The term code switching is now widely used in the development of some sections of society, this departure from the development of language in every individual because every person has the ability to absorb multiple languages besides their native language. From the ability that they apply the code-switching by using two or more languages in interacting with others. Before we discuss more deeply how the using of code switching in society, the first we must know the meaning of code switching it self and also continue with find out the factor of using code switching in society.
A. WHAT IS CODE SWITCHING ?
Now days we ever hear the word of code switching, but most of people didn’t know the meaning, most of them able to use without know the meaning of it. According to Gal, he says that code switching is a conversational strategy used to establish, cross or destroy group boundaries; to create, evoke or change interpersonal relations with their rights and obligations.[1]
Code-switching (also called code-mixing) can occur in conversation between speakers’ turns or within a single speaker’s turn. In the latter case it can occur between sentences (intersententially) or within a single sentence (intra-sententially). Code-switching can arise from individual choice or be used as a major identity marker for a group of speakers who must deal with more than one language in their common pursuits.
Code-switching is the practice of moving between variations of languages in different contexts. Everyone who speaks has learned to code-switch depending on the situation and setting. In an educational context, code-switching is defined as the practice of switching between a primary and a secondary language or discourse.
In our daily life we also have to use code switching , for example in daily life of students of STAIN Pamekasan, especially in english department students, In their daily accustomed to interact with friends using the Indonesian language or their mother tongue, is madurese language, but it is different when they follow the lectures in class, they more often use English to interact, because they had an obligation to use the English language.
B. THE FACTOR OF USING CODE SWITCHING
Some of the factors causing the occurrence of code switching or code mixing is influenced by the context and situation of language that can be described as follows:
1. factors independent of particular speakers and particular circumstances in
which the varieties are used, which affect all the speakers of the relevant
varieties in a particular community.
Speakers sometimes accidentally switched codes to language partner because he has the intent and purpose. Seen from private speakers, there are a variety of purposes and objectives such as code switching the speaker wants to change the situation of the conversation, that is from formal situations which bound the space and time to non-formal situations that are not bound by space and time. Speakers sometimes doing mixed language code one into another language because of habit.
2. According to Milroy and Gordon, the factors attaching to the speakers, both as individuals and as members of a variety of sub-groups: their competence in each variety, their social networks and relationships, their attitudes and ideologies, their self-perception and perception of others. [2]
Usually, a speaker who initially use one language switch the code to another language with a people who come from different communities. For example, speaker and speak using Indonesian partners to switch the code to use English because of the presence of an English speaker who entered the conversation situation.
3. factors within the conversations where code switching takes place. Code switching is a major conversational resource for speakers, providing further tools to structure their discourse beyond those available to monolinguals.
This case will arise a lot of code switching and code mixing in society. Rather language or code mixing can occur from one language into another language, and of speech levels of a language into another language speech levels. For the example, the students who use their mother tongue when interact with their family, could have switched to using the other language when they interact with their class mate or their teachers. They prefer use the Indonesian language than Madurese language, this is influenced by situation and location they use.
CONCLUSION
From explanation above, we can take the conclusion that code switching can not separated with the society, because they often use it even thought they didn’t know the meaning. This case this is already accustomed to use, because people are able to develop a language that they have, by using languages other than their mother tongue, because there are several factors, among which differences in situation and places.
REFERENCES
Wardhaugh. Ronald, An Introduction to Sociolinguistics, Blackwell publishing, 2006
Penelope Gardner-Chloros, Code Switching, New York, Cambridge University, 2009
THE USING OF CODE SWITCHING IN SOCIETY
ARTICLE
Proposed to fulfill the assignment of sociolinguistic
Recommended by Mrs Afifah Raihany M.Pd
Arranged by :
Zainal abidin
18 08 13432

STATE ISLAMIC COLLEGE PAMEKASAN
ENGLISH TEACHING DEPARTMENT
JUNE 2001
Lokasi:Pamekasan
Jawa Timur, Indonesia
Rabu, 28 Maret 2012
Pengertian Hermineutika
“RELASI HERMENEUTIKA. TAFSIR dan TA’WIL”
MAKALAH
Makalah ini diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Hermeneutika
Yang dibina oleh : Fathurrosyid, M. Th. I
Disusun Oleh:
Ach. Zainal Arifin : 18 08 11 035
Ach. Subaidi : 18 08 11 050
Salman Alfarisi : 18 08 11
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAM ISLAM
JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PAMEKASAN
2012
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kepada Allah SWT Yang Maha Esa penulis panjatkan karena penulis dapat menyelesaikan Makalah ini dengan judul ““RELASI HERMENEUTIKA. TAFSIR dan TA’WIL” ”. Makalah ini disusun guna memenuhi salah satu tugas mata kuliah Hermineutika.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini, yang tudak bisa saya sebutkan namanya satu persatu. Penulis juga menyadari masih terdapat banyak kekurangan. Kekurangan dan jauh dari sempurna. Oleh karena itu, dimohon kritik dan saran yang sifatnya membangun. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih.
Pamekasan, 27 Maret 2012
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembuatan makalah ini dilatar belakangi oleh keingintahuan kami sebagai mahluk ciptaan tuhan yang diberi akal dan pikiran sehingga menurut kami untuk mencari tahu segala sesuatu yang telah diciptakannya. Dari sekian banyak penciptaan Allah SWT, salah satunya adalah adanya ilmu Tafsir, Tawi’l dan hermeneutika yang mempunyai arti masing-masing secara etimologi dan termonologi. Ilmu Tafsir danTawi’l memiliki banyak perbedaan menurut para ulama yang sedangkan Ilmu Tafsir danTawi’l hermeneutika selain memiliki perbedaan kedua ilmu ini juga memiliki persamaan dan menyusun makalah ini juga didasarkan akan tugas kelompok yang harus diselesaikan.
B. Rumusan Masalah
Makalah tentang ilmu Tafsir, Tawi’l dan hermeneutika ini mencakup beberapa masalah yaitu :
1. Apakah yang dimaksud dengan Ilmu Tafsir ?
2. Apakah yang dimaksud dengan Ilmu ta’wil ?
3. Apakah yang dimaksud dengan Ilmu Hermeneutika ?
4. Apakah perbedaan ilmu Tafsir dengan Ta’wil ?
5. Bagaimana persamaan dan perbedaan Ilmu Tafsir dan Hermeneutika ?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Tafsir, Ta’wil, Hermeneutika
1. Pengertian Tafsir
Secara etimologi kata tafsir dalam bahasa arab berarti al-idlah (penjelsan) atau al-tabyin(keterangan). Kata tafsir berasal dari akar kata al-fasr kemudian diubah menjadi taf-il yaitu menjadi kata al-tafsir. Kata al-fasr berarti menyingkap suatu yang tertutup, sedangkan kata al-tafsir berarti menyingkapkan sesuatu makna atau maksud lafal yang pelik.
Kata Tafsir dapat juga berarti al-tafsirah, yakni alat-alat kedokteran yang khusus dipergunakan untuk dapt mendeteksi pengetahuan segala penyakirt yang diderita seseorang pasien. maka tafsirah dapat menyingkap makna yang tersimpan dalam kandungan ayat-ayat Al-Qur’an. Kata tafsir dalam Al-Qur’an diungkapkan dalam satu surah dan hanya terdapat pada satu ayat, dimana kata tersebut dalam ayat itu berarti al-idlah atau al-bayan (penjelasan). Ayat dimaksud adalah :
Ÿwur y7tRqè?ù'tƒ @@sVyJÎ/ žwÎ) y7»oY÷¥Å_ Èd,ysø9$$Î/ z`|¡ômr&ur #·ŽÅ¡øÿs? ÇÌÌÈ
Artinya : Tindaklah (orang-orang kafir itu) datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan kami datangkan kepadamu sesuatu yang benar dan yang paling baik penjelasanny. Q. S. (25): 33.
Ibnu Abaz berpendapat, bahwa makna dari kata #·ŽÅ¡øÿs? pada ayat tersebut adalah “perincian”
Kata Tafsir dalam Islam secara khusus menunjuk kepada masalah Penafsiran atau penjelasan mengenai ayat-ayat Al-Quran. Tafsir secara Terminologi.
menurut badruddin Al-Zarkasyi :
السير : علم يعرف به فهم كتب الله تعا لى النزل علىنبيه محمد صلى الله عليه وسلم ونيا ن معا نيه واستخراج أحكمه
Tafsir ialah : ilmu yang dengannya dapat dipahami kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad S.A.W dan dengannya dapat dijelaskan makna-maknaya serta dikeluarkan hukum-hukum dan hikma-hikmanya.
Menurut Syeikh Thahir al-jazairi, sebagaimana dinukil rifat syauqi Nawawi dam M.Ali Hasan serta Mashuri sirojuddin Iqbal dan Al. Fudlali, dikatakan :
التفسير فى الحقيقة إنما هو شرح اللفظ المستلغق عند السا مع بما هو أفصح عنده بما يراد فيه أوله دلالةعليه يا حد ى الطرق الدلالا ت
Tafsir adalah hakekatnya ialah : menerangkan maksud lafal yang sulit dipahami oleh para pendengar (penyimak) denga uraian yang lebih yang lebih memperjelas maksudnya baik dengan mengemukakan sinonim atau kata kata yang mendekati sinonim itu akan dengan mengemukakan uraian yang mempunyai petunjuk kepadanya melalui jalan dalaah.
Sedangkan Abu Hayyan, seperti dikemikakan oleh Manna’ Al-Qaththan, mengemukakan :
االتفسير : علم يبحث فيه عن كيفية النطق با لأ لفاظ القران ومد لولاتهاوأحكامها الأفرادية والتركيبية والتركيبية ومعا نيها التى تحمل عليها حا لة التركيب وتتمات لذا لك
Tafsir : ilmu membahas mengenai tata cara pengucapan lafal-lafal Al-Quran, petunjuk-petunjuknya, hukum-hukumnya baik ketika berdiri. sendiri maupun ketika tersusun makna-makna yang diinginkan atsnya dalam keadaan tersususun sreta hal-hal lain yang melengkapinya.
Maka berdasarkan rumus-rumus diats dapat ditarik suatu pemahaman, bahwa tafsir adalah : usaha yang bertujuan menjelaskan makna ayat-ayat al-Qur’an atau lafal-lafalnya agar hal-hal yang tidak jelas menjadi jelas, yang samar-samar menjadi terang, yang sulit dipahami menjadi mudah di pahami, sehingga al-Qur’an sebagai pedoman dalam hidup dan kehidupan sehari-hari agar tercapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
Dari rumusan-rumusan pengertian tafsir tersebut ada beberapa unsur pokok yang dapat dikemukakan, yaitu :
a. Pada hakekatnya, tafsir itu menjelaskan maksud ayat-ayat al-Qur-an, yang sebagian besar masih dalam bentuk yang sangat global
b.Tujuan adalah untuk memperjelas makna-makna yang terkandung dalam ayat-ayat al-Qur’an, sehingga apa yang hendaki oleh Allah S.W.T. dalam firman-Nya itu dapat dipahami dan dihayati untuk diamalkan.
c. Sasarannya adalah agar al-Qur'an sebagai pedoman hidup dan hidayah dari Allah benar-benar berfungsi sebagaimana tujuan al-Qur'an diturunkan.
d. Sarana pendukung dalam menafsirkan al-Qur'an meliputi berbagai ilmu yang berhubungan dengan itu.
e. Upaya menafsirkan al-Qur'an bukan untuk memastikan, bahwa secara pasti begitulah yang dikehendaki Allah dalam firman -Nya itu, namun pencarian makna itu hanyalah semata-mata untuk memperoleh kebenaran menurut kadar kemampuanmanusia dengan segala keterbatasan ilmu yang dimilikinya.
2. Pengertian Ta'wil
Secara etimologi, menurut sebagian ulama', kata tawil memiliki makna yang sama dengan kata tafsir, yakni "menerangkan" dan "menjelaskan". " Ta'wil berasal dari kata "aul". Kata tersebut dapat berarti: Pertama, al-ruju' (kembali, mengembalikan) yakni, mengembalikan makna pada proporsi yang sesungguhnya. Kedua, al-sharf(memalingkan) yakni memalingkan suatu lafal yang mem punyai sifat khusus dari makna lahir kepada makna batin lafal itu sendiri karena ada ketepatan atau kecocokan dan keserasian dengan maksud yang dituju. Ketiga, al-siydsah (mensiasati) yakni, bahwa lafal-lafal atau kalimat-kalimat tertentu yang mempunyai sifat khusus memerlukan "siasat" yang tepat untuk menemukan makna yang dimaksud. Untuk itu diperlukan ilmu yang lugs dan mendalam.
Selanjutnya pemaknaan ta’wil menurut terminologi dapat dikemukakan sebagai berikut :
التأويل : صرف اللفظ عن معناه الظاهرإلى معن يحتمله إلى معنى يحتمله إذاكان للمحتمل الذى يراه موافقا للكتا ب والسنه
Ta’wil ialah : memalingkan lafal dari maknanya yang tersurat kepada makna lain (batin) yang dimiliki lafal itu, jika makna lain tersebut dipandang sesuai dengan ketentuan al-Qur’an dan Sunnah.
Sebagaimana, seperti Ahmad al-Marahiy mengemukakan :
اماالتأويل : فهوأن يكون للاية عدة معا ن محتملة فمهما ذكرت للسا مع معنى ثم معنى وقف وقفه للمتردد في اختيار أقربهاإلى نفسه ومن ثم كان التأويل أكثرما يستعمل فى جا نب المتشا بها ت
Adapun ta’wil ialah ayat yang memiliki kemungkinan sejumlah makna yang terkandung di dalamnya, maka manakala dikemukakan makna demi makna kepada pendengar, ia menjadi sangsi dan bingung mana yang hendak dipilihnya, karena itu, ta’wil lebih banyak digunakan untuk ayat-ayat musasyahibat.
Muhammad Ali al-Shabuniy mendefenisikan ta’wil sebagai berikut :
التاويل : فهو ترجيح بعض المعانى المحتملة من الايا ت الكريمة التى تحتمل عدة معا ن
Ta’wil ialah : memandang kuat sebagian dari makna-makna tertentu yang terkandung di dalam ayat al-Qur’an dari sekian banyak kemungkinan makna yang ada.
Menta’wilkan ayat-ayat al-Qur’an berarti “membelokkan “atau”memalingkan” lafal-lafal atau ayat-ayat al-Qur’an dari maknanya yang tersurat kepada yang tersirat dengan maksud mencari makna yang sesuai dengan ruh al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW. Sasaran ta’wil umumnya adalah menyangkut ayat-ayat Mutasyabiyat atau ayat-ayat yang mempunyai sejumlah kemungkinan makna yang terkandung di dalamnya.
3. Pengertian Hermeneutika
Secara etimologis lafal hermeneutiks berasal dari kata kerja dalam bahasa yunani hermeneuein yang berarti “menafsirkan” dari sini ditarik kata benda hermeneia yang berkonotasi “penafsiran” atau “Interpretasi”. Lahirnya Istilah ini tak dapat dilepaskan dari tokoh mitologis yunani kuno yang bernama “Hermes”. Hermes ini ditugaskan menerjemahkan pesan-pesan dari dewa di gunung Olympus kedalam bahasa Manusia. Oleh karena itu hermes harus mampu menginterprentasikan meyadur sebuah pesan ke dalam bahasa yang dipergunakan oleh pendengarnya.
Hermeneutiks mengandung pengertian : “Proses Mengubah sesuatu atau situasi ketidak tahuan menjadi mengerti”. Jadi dapat disimpulkan hermeneutiks adalah pembahasan tentang kaidah (teori) atau metode yang digunakan untuk memaknai atau menafsirkan suatu teks (pesan) agar di dapatkan pemahaman yang benar, kemudian berusaha menyampaikan kepada audiens sesuai tingkat dan daya serap mereka.
4. Perbedaan Tafsir dengan Ta’wil
a. Perbedaan Tafsir dengan Ta’wil
Yang dimaksud dengan perbedaan disini bukanlah perbedaan dalam arti paradoksal, melainkan perbedaan dilihat dari segi spesifikasinya masing-masing dan perbedaan dari segi sifat keduanya.
Menurut Abu ‘Ubaidah, tafsir dan ta’wil memiliki pengertian yang sama. Tetapi pendapat Abu ‘Ubaidah itu ditolak oleh sebagian ulama, diantaranya Abu Habib al-Nisaburiy. Ia mengatakan bahwa para ahli tafsir pada Zaman kita, dan bukan untuk masa selanjutnya, telah, dan akan berkembang. Jika mereka ditanya mengenai perbedaan tafsir dengan ta’wil maka mereka tidak dapat memberikan penjelasan dengan pasti.
Menurut al-Raghib alAshfahaniy, sebagaimana dikutip oleh Hasbi al-Shiddeiy, tafsir lebih umum daripada ta’wil. Tafsir lebih banyak pemakaiannya dalam lafal-lafal dan leksikologi (Mufradatnya), sedangkan ta’wil lebih banyak digunakan pada makna-makna dan susunan kalimat. Selain itu tafsir dapat dilakukan terhadap kitab-kitab suci (al-Kutub-al-Ilahiyyah) saja.
Al-baghawi mengatakan; ta’wil ialah memalingkan pengertian sesuatu ayat kepada makna yang mengandung kemungkinan sesuai dengan ayat sebelum dan sesudahnya, dengan catatan tidak menyalahi ketentuan yang sudah digariskan di dalam al-Kitab (al-Qur’an) dan al-sunnah melalaui pengistimbatan. Berbeda dengan tafsir ialah : menjelaskannya melalui asbab al-nuzul ayat dan hal-hal yang dikemukakan oleh ayat itu secara menampilkan arti dari kisah-kisah yang dibawahkannya.
Berbeda dengan beberapa pendapat diatas Muhammad abd. Azhim al- Zarqani menampilkan pandangan secara lebih rincian mengenai perbedaan dari makna kedua istilah tersebut yaitu :
1) Tafsir beberbeda dengan ta’wil pada ayat-ayat yang menyangkut soal umum dan khusus. Pengertian tafsir lebih umum dari pada ta’wil, karena ta’wil berkenaan dengan ayat-ayat khusus, misalnya ayat-ayat mutsyabihat.
2) Tafsir adalah penjelasan lebih lanjut dari takwil.
3) Tafsir menerangkan makna ayat (lafadz) melaui pendekatan riwayat, sedangkan takwil melalui pendekatan dirayah (kemampuan, keilmuan, dan nalar).
4) Tafsir menerangkan makna-makna yang diambil dari bentuk yang tersirat (bi al-isra, malhuzhah).
5) Tafsir berhubungan dengan makna-makna ayat atau dengan lafaz yang biasa-biasa saja, sedangkan ta’wil berhubungan dengan makna-makna yang “suci” (ma’anin qudsiyyah).
6) Tafsir mengenai penjelasan maknanya telah diberikan oleh al-qur’an sendiri, sedangkan ta’wil penjelasan maknanya diperoleh melaui istimbath (Penggalian) dengan memanfaatkan ilmu-ilmu alat dan ilmu-ilmu bantu. Secara singkat mengenai perbedaan tafsir dan takwil disebut dapat dilihat pada table berikut ini :
No | Tafsir | No | Ta’wil |
1 2 3 4 5 | Pemakaiannya banyak terdapat Pada lafal-lafal dan leksikologi (mufradat). Jelas diterangkan dalam al-Qur’an dan hadist-hadist sahih. Banyak berhubungan dengan riwayat Digunakan dalam ayat-ayat muhkamat (jelas, terang). Bersifat menerangkan petunjuk yang dikehendaki. | 1 2 3 4 5 | Penggunaanya lebih banyak pada makna-makna dan susunan kalimat. Kebanyakan diistimbathkan oleh para ulama Lebih banyak berhubungan dengan dirayah (Nalar, aqly) Digunakan dalam ayat-ayat mutsyibihat (samar, tidak jelas). Menerangkan hakikat yang dikehendaki. |
5. Persamaan dan Perbedaan Ilmu Tafsir dengan Hermemeneutiks
Hermeneutics mengandung pengertian : “proses mengubah sesuatu atau situasi ketidak tahuan menjadi mengerti”. Hermeutiks itu adalah pembahasan tentang kaidah (teori) atau metode yang digunakan untuk memaknai atau menafsirkan suatu teks (pesan) agar didapatkan pemahaman yang benar, kemudian berusaha untuk menyampaikan kepada audiens kepada sesuai tingkat dan daya serap mereka. Hermeneutics secara subtansial tidak jauh berbeda dengan ilmu tafsir. Hermeneutics adalah kata benda (Noun). Kata ini menurutnya mengandung konotasi :
a. Ilmu Penafsiran
b. Ilmu untuk mengetahui maksud yang terkandung dalam kata-kata atau ungkapan penulis
c. Penafsiran, khususnya menunjuk kepada penafsiran kitab suci.
Harus memahami secara mendalam dan utuh tentang teks yang akan disampaikannya kepada umat. Dia harus memahami secara baik semua hal yang bersangkut paut dengan teks tersebut. Tidak hanya kondisi, bentuk, dan susunan teks itu saja yang harus dipahaminya, tapi lebih dari itu, ia harus lebih mendalami watak dan kepribadian si penulis atau pembuat teks dimaksud, disamping juga harus menghayati situasi dan kondisi yang melatarbelakangi lahirnya sebuah teks. Ketiga unsur diamaksud ialah teks interprenter, dan audien (penerima tafsir).
Ketiga aspek itu berisi tiga konsep pokok yakni:
a. Membicarakan hakikat sebuah teks.
b. Apakah interprenternya memahami teks dengan baik.
c. Bagaimana sesuatu penafsiaran dapat dibatasi oleh asumsi-asumsi dasar serta kepercayaan atau wawasan para audiens.
Ketiga unsur pokok yang menjadi pilar utama dalam teori hermeneutics itu tidak jauh berbeda dari yang dipakai para ulama tafsir dalam penafsiran al-Qur’an. Ibn taimiyah, misalnya, menyatakan bahwa setiap proses penafsiran harus diperhatikan di hal
a. Siapa yang menyabdakannya
b. Kepada siapa ia turunkan
c. Ditujukan kepada siapa.
Selain persamaan dalam tiga prinsip dasar itu ilmu tafsir juga mempunyai tujuan yang sama dengan hermeneutics yakni ingin memperjelas suatu teks sejujurnya dan seobjektif mungkin.
Ø Perbedaan
Pertama, Hermes dalam kajian hermeneutuiks digambarkan sebagai dewa penghubung (utusan) yang berwenang penuh dalam menyampiakan pesan yang dibawahnya sesuai dengan bahasa yang dimengerti oleh umat yang akan menerima pesan tersebut.
Tugas yang diemban oleh hermes itu boleh di analogikan dengan tugas risalah yang di emban oleh nabi Muhammad SAW maka terdapat suatu perbedaan yang mencolok senagaimana tampak dalam bagan tersebut :
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Pengertian secara etimologi
Secara Etimologi. Kata Tafsir Dalam Bahasa Arab Berarti Al-Idlah (Penjelasan) atau Al-tabyin (keterangan) kata tafsir berasal dari katan Al-fasr yang berarti menyingkap sesuatu yang tertutup, sedangkan dari kata Al-tafsir, menyingkap sesuatu makna atau maksud lafal yang baik. Tafsir dapat menyingkap makna yang tersimpan dalam kandungan ayat-ayat Al-Quran. Secara terminologi, menurut badrudin Al-Zarkasyi :
التفسير: علم يعرف به فهم كتا ب الله تعا لى المنزل على نبيه محمد صلى الله عليه و سلم وبيان معانيه واستخراج أحكامه وحكمه
Tafsir ialah : ilmu yang dengannya dapat dipahami kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan dengannya dapat dapat dijelaskan makna-maknanya serta dikeluarkanhukum-hukum dan hikma-hikmanya. Berdasarkan rumusan diatas dapat ditarik suatu suatu pemahaman, bahwa tafsir adalah usaha yang bertujuan menjelaskan makna ayat-ayat Al-Quran atau lafal-lafalnya agar hal-hal yang tidak jelas menjadi jelas, yang samar-samar menjadi terang, yang sulit dipahami menjadi mudah dipahami, sehingga Al-Quran sebagai pedoman hidup manusia benar-benar kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
2. pengertian ta’wil
Secara etimologi, menurut sebagian ulama kata ta’wil memiliki arti arti yang sama dengan kata tafsir yang menerangkan dan menjelaskan ta’wil berasal dari kata “Aul”. kata kata tersebut dapat berarti : Pertama, Al-ruju (kembali, mengembalikan). Kedua, Al-shap (Memalingkan). Ketiga, Al-siyasah (Mensiasati). Secara terminologi dapat dikemukakan ta’wil ialah : memalingkan lapal dari maknanya yang tersurat kepda makna lain (Batin) yang dimiliki lafal itu, jika makna lain tersebut dipandang sesuai dengan ketentuan Al-Quran dan Al-sunns. Menta’wilkan ayat-ayat Al-Quran dari maknanya tersurat kepada yang tersirat dengan maksud mencari makna yang sesuai dengan run Al-Quran dan Sunna Rasullullah SAW.
3. Pengertian Hermenevtika
Hermenevtika ialah pembahasan tentang kaidah (teori) atau metode yang digunakan untuk memakai atau menafsirkan suatu teks (resan) agar didafatkan pemahaman yang benar,kemudian berusaha menyampaikannya kepada audien sesuai tingkatan dan daya serap mereka.
4. Perbedaan tafsir dan ta’wil
Menurut Azhim al-zarqany perbedan dari tafsir dan ta’wil adalah:
· Tafsir lebih umum dari pada ta’wil ,karena ta’wil berkenan dengan ayat-ayat yang khusus.
· Tafsir adalah penjelasan lebih lanjut bagi ta’wil.
· Tafsir menerangkan makna ayat (lafal) melalui pendekatan wirayat, sedangkan ta’wil melalui pendekatan dirayah (kemampuan keilmuan ,nalar).
5. Persamaan dan perbedaan ilmu tafsir dan hermenevtika
· Persamaan
Dalam hermenevtika yang berkait – berkelindah dalam proses penafsiran yaitu:
a. Membicarakan hakikat sebuah teks.
b. Apakah interpreternya memahami teks dengan baik.
c. Bagai mana suatu penafsiran dapat dibatasi oleh asumsi-asumsi dasar serta kepecayaan atau wawasan para audien.
Ketiga unsur pokok yang jadi pilar utama dalam teori hermenevtika tidak jauh berbeda dari yang dipakai para ulama tafsir dalam menafsirkan al-Qur’an yaitu:
a. Siapa yang mendapatkannya.
b. Kepada siapa diturunkan.
c. di tunjukan kepada siapa.
· Perbedaan
Hermes sebagai dewa kepercayaan yang dikirim lansung ke bumi guna menyampaikan pesan kepada umat tidak control dari dewa yang mengirimkannya,dan seterusnya. Sedangkan risalah dan wewenang menafsirkan al-Qur’an (tapi sebatas) ayat-ayat yang mereka perselisihkan maknanya (Q.16:44).
Langganan:
Postingan (Atom)

